Perjalanan Sejarah PUSDAI Jabar
Perjalanan panjang perintisan, pembangunan, dan pengelolaan Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) Jawa Barat sejak gagasan awal tahun 1982 hingga peresmian resmi.
Latar Belakang & Identitas
PUSDAI Jawa Barat (Pusat Dakwah Islam Jawa Barat) merupakan lembaga keislaman terpadu yang berfungsi sebagai pusat dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan syiar Islam di Jawa Barat.
Berbeda dengan daerah lain yang umumnya menggunakan istilah bahasa asing “Islamic Centre”, nama “Pusat Dakwah Islam” dipilih karena memiliki semangat nasionalisme yang kuat untuk mengutamakan bahasa Indonesia. Pemilihan istilah ini melibatkan berbagai elemen ulama dan masyarakat Jawa Barat guna menemukan nama lokal yang paling representatif untuk mewakili aktivitas dakwah terintegrasi.
Saat ini, kompleks PUSDAI Jabar telah melewati masa perjalanan panjang—lebih dari dua dekade sejak resmi diresmikan pada akhir tahun 1997, atau sekitar 40 tahun jika dihitung dari cetusan gagasan awalnya.
Dimensi Wilayah
- Utara: Kampung Sukamantri
- Timur: Kampung Muararajeun
- Selatan: Jl. Diponegoro
- Barat: Gedung RRI Bandung
Linimasa Pembangunan & Transisi
Pencetusan Gagasan & SK Gubernur
Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi mengeluarkan SK Gubernur No. 593.82/SK.133-Pem.Um/82. SK tersebut menetapkan lokasi pembangunan Pusat Pengembangan Islam (Islamic Centre) Annex Masjid Raya di Kotamadya Bandung yang dirancang terintegrasi dengan kompleks Monumen Perjuangan Rakyat.
Pembebasan Lahan & Relokasi Warga
Proses relokasi pemukiman padat warga Kampung Warga di Cihaur Geulis Bandung berlangsung selama 9 tahun dengan total anggaran mencapai Rp20 Miliar. Warga dengan ikhlas bersedia dipindahkan ke wilayah Cibeunying Kolot, Mandala Mekar, dan Cibiru Hilir demi kepentingan umat.
Pendirian Yayasan Pendorong
Pemerintah Provinsi mendirikan Yayasan Islamic Centre Jawa Barat di bawah pimpinan Gubernur Yogi S. Memet. Para tokoh pendiri meliputi H. Emon Suratman (Ketua DPRD), H. Suryatna Soebrata (Wagub Jabar), Drs. H. Ukman Sutaryan (Sekda Jabar), Prof. Dr. H. Rahmat Djatnika (Rektor IAIN), Drs. H. Djauharudin Abdurrohim (Kakanwil Depag), dan KH. R. Totoh Abdul Fatah (Ketua MUI Jabar).
Konstruksi Fisik Bangunan
Pembangunan fisik gedung dan arsitektur masjid megah dimulai tahun 1992 di masa Gubernur Yogi S. Memet. Proyek pembangunan konstruksi berlangsung selama 6 tahun dengan menelan anggaran daerah sebesar Rp27 Miliar.
Peresmian & Inaugurasi Agung
Kompleks Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) Jawa Barat diresmikan secara agung oleh Gubernur Jawa Barat R. Nuriana pada 2 Sya'ban 1418 H, menandai dimulainya syiar Islam modern dari ikon keagamaan baru Jawa Barat.
Era Profesionalisme Ulama (Prof. Dr. KH. Miftah Faridl)
Merespons arus reformasi agar dikelola profesional oleh kalangan ulama, Gubernur menerbitkan Kepgub No. 45/1998, menyerahkan eksekutif kepada Drs. KH. Miftah Faridl (Direktur) dan Ir. H. Sodik Mudjahid, MSc (Direktur Pelaksana). Di bawah kepengurusan ini, didirikan TK Islam Terpadu, unit BMT, wedding organizer Bale Asri, kelompok Rampai, serta dirintis layanan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).